Arti Shofar
Shofar atau yang biasa disebut sangkakala, berasal dari bahasa Ibrani rp"vo (shofar) secara harfiah berarti tanduk atau terompet. Menurut kitab Suci Ibrani (Perjanjian Lama), kata ini disebutkan sebanyak tujuh puluh dua kali, merujuk pada alat musik yang terbuat dari tanduk hewan yang kosher, biasanya domba jantan atau kambing berusia minimal satu tahun. Shofar bisa juga dibuat dari tanduk Kudu besar (hewan Antelop), yang kebanyakan hidup di Afrika dan Timur Tengah. Salah satu Shofar yang terbuat dari tanduk Antelop adalah koleksi Shofar yang terdapat di The Bible Gallery.
Secara tradisional Shofar dibuat dengan cara dilubangi, disterilkan dan dibengkokkan dengan hati-hati sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Ujungnya yang sempit dipotong dan dibentuk menjadi corong. Retakan atau lubang apa pun pada Shofar membuatnya tidak layak pakai dan penambalan dengan bahan asing apa pun tidak diperbolehkan. Karena itu membuat Shofar menjadi sebuah trompet yang eksklusif.
Penggunaan Shofar
Shofar bukan hanya benda untuk liturgi keagamaan tetapi juga simbol yang mengalami perkembangan makna dari zaman Israel Kuno sampai Yahudi modern, seperti penjelasan di bawah ini:
Penggunaan Shofar dalam tradisi Israel Kuno:
1. Simbol Kehadiran dan Kuasa Tuhan
2. Sebagai tanda peringatan dan perang
3. Upacara Keagamaan
Shofar ditiup pada hari-hari raya Israel Kuno seperti:
4. Penobatan Raja (1 Raja-raja 1:34, 39)
Saat Salomo diurapi menjadi raja peniupan Shofar menjadi sebuah tanda penobatan dan seruan kepada Salomo sebagai raja yang baru.
5. Makna Simbolis di Masa Nabi-nabi
Nabi Yoel (2:1) dan Amos (3:6) memakai Shofar sebagai simbol peringatan datangnya hari Tuhan (dalam konteks kehancuran bangsa Israel). Peniupan Shofar sebagai sebuah panggilan kepada umat untuk berjaga-jaga dan bertobat atas kesalahan yang sudah mereka lakukan, karena kehancuran negeri oleh para musuh sudah dekat.
Seiring berjalannya waktu, penggunaan Shofar mengalami perubahan khususnya ketika Bait Suci kedua di Yerusalem hancur pada tahun 70 M, setelah peristiwa tersebut Shofar tidak lagi digunakkan untuk perang atau upacara korban namun hanya digunakkan untuk tradisi keagamaan Yahudi yang kemudian digunakan pada sinagoga dan rumah ibadah lokal, berikut penjelasannya:
Cara Meniup Shofar
Shofar tidak ditiupkan secara sembarangan, ada aturan khusus tentang jumlah dan jenis tiupan Shofar. Aturan memang sebelumnya tidak tercantum dalam Taurat namun muncul pada abad ke-2 Masehi, menurut Mishnah Seder Moed (traktat tentang hari raya dan ibadah). Jenis tiupan menurut Mishnah ialah; Tekiah (nada panjang dan lurus), Shevarim (3 nada panjang/melengkung), Teruah (9 nada pendek berturut-turut) dan Tekiah Gedolah (nada panjang yang lebih panjang dari Tekiah biasa). Selain jenis tiupan terdapat juga jumlah tiupan yang diatur menurut Mishnah dan Talmud, yakni sebanyak 100 tiupan selama ibadah Rosh Hashanah, dengan rincian; 30-32 Tekiah, 30-36 Shevarim-Teruah (dengan beberapa variasi) dan 1 Tekiah Gedolah. Urutannya bisa berbeda-beda namun prinsipnya tetap sama dan dapat diulangi sampai jumlah tiupan terpenuhi. Apabila hari raya jatuh pada hari Sabat maka beberapa tiupan akan diubah agar tidak melarang aturan hari sabat.
Jadi, Shofar merupakan alat musik yang sangat memiliki makna yang dalam, karenanya dalam menggunakkan Shofar sobat Scriptura diajak untuk menghormati alat musik ini dengan cara tidak menggunakkannya secara sembarangan, karena dari sejarahnya alat musik ini bukanlah alat musik biasa, tapi digunakan sebagai sarana untuk menghormati Tuhan sebagai Raja Agung, sebagai penebus dosa manusia bahkan sebagai simbol pembebasan umat Tuhan dari belenggu perbudakan.
Makna Teologis Shofar
Referensi
Kitab Suci versi terjemahan LAI TB I
Encyclopaedia Britannica. “Shofar.”
Encyclopaedia Judaica. “Shofar.”
Mishnah, Rosh Hashanah 4:9.
Babylonian Talmud, Rosh Hashanah 33b–34a.
Alfred Edersheim, The Temple: Its Ministry and Services.
Jewish Encyclopedia, “Shofar.”
-Shania K. Winowod-