Oil Lamp (Lampu Minyak) dalam istilah arkeologi disebut sebagai Herodian Lamp atau Roman-Jewish Lamp atau dalam bahasa Yunani Koine λύχνος (lychnos), ini merupakan istilah utama untuk lampu minyak dalam Perjanjian Baru. contohnya dalam Matius 5:15 “orang tidak menyalakan pelita (lampu) lalu meletakkannya di bawah gantang...”. Nah, kata pelita/lampu dalam teks ini menggunakkan kata λύχνος (lampu, pelita, alat penerang dengan minyak dan sumbu).
Lampu seperti ini umum dipakai pada zaman Yunani dan Romawi. Khusus untuk koleksi yang dipajang pada The Bible Gallery, lampu ini merupakan replika lampu minyak dari era Romawi atau Timur Tengah Kuno. Kenapa disebut sebagai lampu minyak era Romawi, karena ada ciri khusus dari lampu ini diantaranya;
Lampu ini umumnya dipakai dan berkembang pesat pada Perjanjian Baru ketika Yudea berada di bawah kekuasaan Romawi mulai dari masa Herodes Agung. Berdasarkan temuan arkeologi lampu seperti ini banyak ditemukan di Yerusalem, Nazaret, Kapernaum dan Bethlehem, tepat di daerah aktifitas Yesus dan para murid.
Fungsi dan Penggunaan
Lampu minyak ini merupakan benda penerang yang menjadi sumber cahaya utama di rumah-rumah orang Yahudi. Biasanya satu rumah kecil memiliki beberapa lampu kecil yang diletakkan di atas meja batu kecil, relung dinding (rongga yang dibuat di dalam dinding), atau digantung dengan tali di langit-langit. Bahan bakar lampu ini adalah minyak zaitun yang mudah diperoleh pada zaman itu dan berbauh khas yang harum.
Makna Teologis menurut Perjanjian Baru
Tradisi Yahudi Bait Suci Kedua dan Kekristenan awal sering menggunakkan lampu untuk menggambarkan sebuah makna simbolik spiritual yang sangat kuat. Ini nampak jelas dalam ajaran Yesus serta tulisan para Rasul, salah satunya perkataan Yesus dalam Matius 5:14-16
ouvde. kai.ousin lu,cnon kai. tiqe,asin auvto.n u`po. to.n modion... (Orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang) LAI TB 1 dari kata lu,cnoj artinya lampu minyak, pelita.
Yesus menjelaskan soal pelita berdasarkan fungsinya, yakni memang orang-orang tidak menyalakan pelita atau lampu minyak itu di bawah (u`po.) gantang (wadah takaran biji-bijian) (to.n mo,dion). Namun lampu biasanya diletakkan di atas meja atau digantung menggunakkan tali pada langit-langit agar cahayanya dapat tersebar ke semua ruangan. Ini merupakan simbol atau metafora yang mendalam soal hidup manusia, yang harusnya membawa terang.
Kenapa harus menjadi terang? Karena pada konteks itu belum ada teknologi listrik dan lampu seperti sekarang ini, itu sebabnya cahaya dari lampu (pelita) pada malam hari menjadi sumber kehidupan bagi seisi rumah. Tanpa terang orang tidak bisa beraktifitas, tanpa terang di malam hari orang kesulitan untuk melihat jalan. Oleh karena itu Yesus mengajak setiap orang untuk tidak menyembunyikan terang dan jadilah terang di mana pun keberadaannya. Sebab dengan demikian, melalui terang itu akan mengubah suasana hidup orang lain; dari penderitaan kepada sukacita, menuntun orang yang kehilangan arah dapat melihat arah hidup dengan jelas, memancarkan kasih, keadilan dan memberi ketenangan. Maka jadilah terang seperti cahaya pelita yang meskipun kecil tapi sangat bermakna dalam keheningan malam.
Referensi
Avigad, Nahman. Discovering Jerusalem.
BibleWorks versi 10.
Encyclopaedia Britannica. “Oil Lamp.” https://www.britannica.com/technology/oil-lamp
Kitab Suci Terjemahan LAI TB 1
Teks Bahasa Asli dan analisis dari Aplikasi Android “Interlinear Scriptura” dikembangkan oleh Yayasan Scriptura Indonesia
-Shania K. Winowod-